JAKARTA – Mobil karya siswa-siswi SMK yang belakangan ini menjadi bahan perbincangan masyarakat banyak, terutama saat akan dijadikan sebagai mobil nasional dan diproduksi secara massal.
Namun, untuk menggapai semua itu, banyak hal yang harus dilewati dan banyak rintangan yang telah dihadapi oleh para SMK sebelum menuju proses produksi massal. Salah satunya mobil Esemka diharuskan memiliki standar emisi gas buang Euro 2 yang telah ditetapkan Pemerintah kepada para produsen mobil lainnya sbeluim memproduksi mobilnya.
“Mobil Esemka ini diharuskan memiliki standar emisi gas buang Euro2 layaknya mobil yang diproduksi oleh ATPM di Indonesia. Untuk memenuhi standar yang ditetapkan pemerindah dalam dunia industri otomotif, maka kami terus melakukan perbaikan dan telah memasang filter pada knalpot serta tune up mesin, agar Esemka ini memiliki standar emisi gas buang Euro 2,” beber Joko Sutrisno, Direktur Pembinaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan SMK, kepada Okezone disela acara Pres Converence, di Kemendikbud, Jakarta, Selasa (17/1/2012).
Menurut Joko, perizinan tersebut cukup berat jika dilihat dari kacamata mobil karya anak SMK. Karena, tujuan siswa-siswi SMK membuat mobil awalnya hanya untuk pembelajaran dan bukan untuk diproduksi secara massal.
Namun, karena banyak dukungan dari berbagai pihak mulai dari masyarakat, para politisi serta pemerintah negara, maka mobil ini direncanakan untuk masuk tahap produksi massal.
“Syarat sekelas itu menurut saya sangat berat. Karena, awalnya mobil ini dibuat untuk pembelajaran dan dengan membuat mobil seperti ini saja sudah sangat bagus. Jadi kami harap Pemerintah terkait tidak mempersulit uji emisi yang akan dilakukan mulai pekan depan di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT),” tutur Joko.
(zwr)